Model BUMDes dan BUMD untuk Pengelolaan Distribusi Logistik Trans Papua
Downloads
Distribusi logistik di wilayah Trans Papua, khususnya jalur Jayapura–Wamena, masih menghadapi berbagai tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya transportasi, ketidakstabilan akses distribusi, serta lemahnya integrasi kelembagaan antaraktor. Kondisi geografis Papua yang kompleks membutuhkan model pengelolaan logistik yang adaptif dengan melibatkan kelembagaan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model kelembagaan BUMDes dan BUMD dalam mendukung pengelolaan distribusi logistik Trans Papua yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara mendalam, observasi lapangan, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi. Analisis data kualitatif dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BUMD berperan sebagai pengelola distribusi regional, aggregator logistik, dan penyedia infrastruktur pendukung, sedangkan BUMDes berperan dalam distribusi tingkat lokal (last-mile delivery) dan penguatan ekonomi masyarakat. Model kolaborasi BUMD–BUMDes–pemerintah daerah terbukti menjadi strategi penting dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok, stabilitas distribusi, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan, digitalisasi logistik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta regulasi kolaboratif menjadi faktor utama dalam membangun sistem distribusi logistik Trans Papua yang berkelanjutan.
Copyright (c) 2026 Marthen Sulo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



