Identifikasi Faktor Penyebab Waria di Kota Makassar

 

 

Sa’iid Irham Febrian1*, Dian Novita Siswanti2, Wilda Ansar3

Universitas Negeri Makassar, Indonesia1*23

Email: Saiidirhamfebrian24@gmail.com1*, dhiannovita76@gmail.com2, Wildaansar48@gmail.com3

 

 

 

Abstrak

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan merupakan sebuah partisipasi aktif ayah yang dilakukansecara terus menerus yang memuat aspek waktu, inisiatif, dan pemberdayaan pribadi dalam dimensi fisik, kognisi, dan afeksi dalam semua area perkembangan anak yaitu fisik, emosi, sosial, spiritual, intelektual dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab waria di Kota Makassar. Terdapat dua responden pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara. Hasil dari penelitian yaitu faktor yang menjadi penyebab waria di kota makassar yakni karena ketidak terlibatan ayah pada pengasuhan waria selama masa perkembangan hingga dewasa, serta karena adanya faktor perceraian yang membuat waria merasa ditinggalkan oleh ayah yang sangat dekat sebelum perceraian kedua orangtuanya terjadi. Hal ini disimpulkan berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan menggunakan tiga tema besar keterlibatan ayah yakni Paternal engagement/Interaction, Paternal accessibility, dan Paternal responsibility. Implikasi dari penelitian ini adalah mampu memberikan gambaran bagi para orangtua, utamanya ayah kepada anak laki-lakinya agar ikut terlibat dalam pengasuhan sehingga anak laki-laki dapat merasakan peran contoh laki-laki sejak kecil dari ayahnya, karena dengan kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak yang memiliki gender laki-laki dapat menimbulkan permasalahan identitas gender pada di masa pertumbuhan, salah satunya dapat mengakibatkan anak laki- laki tumbuh menjadi waria.

 

Kata kunci: Identifikasi faktor, Waria, Keterlibatan ayah, Identitas gender

 

 

 

Abstract

Empowerment in physical, cognition, and affection dimensions in all areas of child development, namely physical, emotional, social, spiritual, intellectual and moral. This study aims to identify the causative factors of waria in Makassar City. There were two respondents in this study. This research uses qualitative research methods with a case study approach. Data collection techniques use interview techniques. The results of the study are factors that cause waria in the city of Makassar, namely because of the father's ininvolvement in waria care during development to adulthood, and because of the divorce factor that makes waria feel abandoned by a father who is very close before the divorce of both parents occurs. This was concluded based on the results of research conducted by researchers using three major themes of paternal engagement, namely Paternal engagement / Interaction, Paternal accessibility, and Paternal responsibility. The implication of this study is to be able to provide an overview for parents, especially fathers to their sons to be involved in parenting so that boys can feel the role of male examples since childhood from their fathers, because the lack of involvement of fathers in the care of children who have a male gender can cause gender identity problems in the growth period, one of which can cause boys to grow into waria.

 

Keywords: Factor identification, Transvestite, Father's involvement, Gender identity

 

 

PENDAHULUAN

Mengasuh dan membesarkan anak remaja membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang berbeda dibanding dengan membesarkan seorang balita. Selain itu, dalam mengantarkan anak dari usia remaja beranjak dewasa sangatlah membutuhkan pengetahuan, keterampilan, yang dimana tiap orang beranggapan yang berbeda-beda. Dalam mendidik anak peran orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar pada masa perkembangan seorang anak. Walaupun diperlukan dukungan berbagai macam lembaga sosial seperti sekolah dan lingkungan sekitar. Sama halnya dengan perbuatan seorang suami kepada istri, begitupun sebaliknya, sangat memengaruhi pendidikan yang ada di dalam keluarga, hal ini disebabkan karena mampu menularkan kepribadian atau karakter kepada anak. Kesuksesan seorang anak sangat dipengaruhi oleh faktor keluarga, hal itu dikarenakan anak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan didalam keluarga (PenyuluhanBina Keluarga 2009).

Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Novita Ashari (2021), mengungkapkan bahwa di zaman modern sekarang ini semua serba sudah mengalami kemajuan yang serba kompleks dan banyak menimbulkan masalah yang berdampak negatif. Masalah sosial salah satunya, dimana masalah ini muncul karena penyimpangan terhadap konsep masyarakat ideal. Manusia yang sering menimbulkan penyimpangan dalam konsep ideal adalah waria.

Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah waria yang besar. Menurut data statistik yang dimiliki Persatuan Waria Republik Indonesia, jumlah waria yang terdata dan memiliki Kartu Tanda Penduduk mencapai 3.887.000 jiwa pada tahun 2007. Saat ini menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia bahwa belum adaa data yang akurat dan mutakhir tentang gambaran atau profil waria. Hal ini menyebabkan sulit merumuskan kebijakan dan program, serta rencana kerja bagi lembaga atau instansi terkait melaksanakan koordinasi secara terpadu.

Benny Prasetya, dkk (2020). Menyatakan bahwa Keberadaan waria di masyarakat dianggap sebagai sebuah penyimpangan sosial dan pelanggaran terhadap ajaran agama. Faktor tersebut dikarenakan dalam agama khususnya Islam dengan tegas melarang manusia baik laki-laki atau perempuan untuk menyerupai lawan jenisnya. Masyarakat memotret diri waria dengan sangat menjijikkan. Ia dianggap sebagai perusak moral masyarakat, penghancur kehidupan keluarga, dan manusia tanpa harga diri. Waria dikonstruksikan sebagai sampah masyarakat karena norma sosial dan agama tidak dapat menerima kehadiran waria.

Harpan Reski Mulia (2021). Mengemukakan bahwa seseorang menjadi waria tidak bisalepas dari sebuah perjalanan panjang, mulai perkembangan masa anak- anak sampai dewasa. Perlu ditekankan bahwa peran ayah dalam tumbuh kembang anak laki-laki sangat berpengaruh dalam membentuk identitas anak, karena nilai yang pertama didapatkan seorang anak adalah dari apa yang dia pelajari pada peran contoh dari orangtua sebagai orang terdekat yang berada dirumah. Peran ayah pada anak laki-laki menjadi temuan sentral dalam pembentukan identitas gender waria.

Dalam penelitian Dewi Rokhmah (2015), ditemukan bahwa seseorang yang manjadi waria dikarenakan pola asuh yang dilakukan oleh orang tua yang bersifat koersif atau keras, hal ini dikarenakan ayah yang temperamental, dan pola asuh ibu yang dominan (kehilangansosok ayah), serta pola asuh orang tua yang permisif. Keadaan ini yang mengakibatkan identitas dan eksistensi sebagai waria semakin kuat.

Dalam penelitian Harpan Reski Mulia (2021), juga ditemukan bahwa subjek menyatakan mereka telah menyadari akan identitas gender mereka sebagai seorang waria sejak kecil. Hal ini disebabkan karena tiga alasan, Pertama karena kurang berperannya ayah dalam kehidupan anak laki-laki. Kedua, karena keluarga mereka terutama ibu selalu membelikan mainan-mainan perempuan seperti boneka, alat- alat masak dan lain sebagainya. Ketiga, karena mereka ketika kecil lebih suka bermain dengan anak perempuan seusia mereka.

Berdasarkan kutipan wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa, anak laki- laki menjadi waria karena berbagai faktor yang berbeda-beda di tiap individu, sehingga tertarik bagi peneliti untuk mendalami terkait masalah. Maka hal demikianlah yang mendasari perlunya identifikasi faktor penyebab waria yang di spesifikkan berdomisili di kota Makassar.

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Sugiono (2007) menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan sebuah penelit ian yang berfungsi dalam meneliti suatu objek yang alamiah serta yang menjadi instrumen kunci dalam penelitian ini adalah peneliti. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan gabungan, analisis datanya memiliki sifat induktif, serta hasil dari penelitian kualitatif juga bukan menekankan pada generalisasi, melainkan pada maknayang terkandung. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang dimana lebih jelas dan detail, serta mendalam. Selain itu, penggunaan metode kualitatif digunakan dengan alasan bahwa kemungkinan data yang diperoleh di lapangan berupa data dalam bentuk fakta yang memerlukan analisis secara mendalam, sehingga metode kualitatif mampu lebih mendorong pencapaian data yang bersifat lebih mendalam, terutama keterlibatan peneliti dilapangan.

Model pendekatan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yang di mana merupakan sebuah model yang memfokuskan eksplorasi “Sistem Terbatas” atas satu kasus khusus ataupun pada sebagian kasus secara terperinci dengan penggalian data secara mendalam. Dalam studi kasus juga beragam sumber informasi yang dapat diperoleh serta kaya akan konteks dilakukan dengan tujuan penggalian data. (Creswell, 2015).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Responden dalam penelitian ini berjumlah 2 orang, inisial responden pertama adalah L seorang laki-laki yang menjadi waria dan saat ini berusia 28 tahun L mulai menginjak dunia waria saat usianya 17 tahun dan telah tamat SMA. Responden yang kedua berinisial I seorang laki-laki yang menjadi waria, dan saat ini berusia 23 tahun.

Peneliti menemukan bahwa kedua responden menjadi waria karena memiliki sosok ayah namun kurang melibatkan peran dalam tumbuh kembang anak laki- lakinya sehingga tumbuh menjadi waria. Hal ini saya temukan berdasarkan hasil wawancara yang berpatokan dengan guide wawancara yang meliputi Paternal engagement dimana meliputi bagaimana pengasuhan ayah kepada anak, Paternal accessibility dimana meliputi bagaimana bentuk interaksi ayah terhadap sang anak, Paternal responsibility yang meliputi bentuk keterlibatan tanggung jawab ayah kepada anak laki-laki terkait tanggung jawab, pengambilan keputusan, perencanaan anak, atau bahkan pemberian aturan tertentu kepada anak.

Pembahasan

Berdasarkan analisi data yang telah dilakukan peneliti terhadap kedua responden, akan dibahas lebih lanjut terkait apa yang menjadi faktor penyebab waria, pembahasan lebih lanjut akan dipaparkan berikut ini.

1.      Paternal engagement.

Paternal engagement/Interaction merupakan pengasuhan secara langsung / berinteraksi satu lawan satu dengan anak, mempunyai waktu untuk bersantai dan bermain. Interaksi ini meliputi kegiatan seperti memberi anak makan, mengenakan baju kepada anak, mengajak anak berbincang, serta membantu anak mengerjakan tugas sekolah dirumah. Farida (Hidayati dkk 2011).

Berdasarkan analisis data peneliti, ditemukan bahwa responden L menjadi waria dikarenakan merasa dirinya tumbuh dengan memiliki jika perempuan sejak kecil, dan setelah dilakukan wawancara mendalam terhadap responden L, diketahui bahwa dari kecilhingga dewasa responden L tidak memperoleh pengasuhan dari sang ayah yang sibuk mencari nafkah, menurut responden L ayahnya adalah sosok yang mencari uang dikeluarga dan jarang memiliki waktu dengan anak karena pergi pagi pulang malam untuk menafkahi keluarga. Berdasarkan hasil wawancara dari significant other ibu responden L beserta ayahnya, mereka mengakui bahwa responden L sejak kecil full pengasuhan dan didikan diberikan dari sang ibu sehingga interaksi dengan sang ayah kurang karena dari kecil hingga responden L dewasa tidak lekat dengan sang ayah yang cuek dengan tumbuh kembang anak akibat pekerjaan.

Anak laki-laki telah menyadari akan identitas gender mereka sebagai seorang waria sejak kecil karena disebabkan ke beberapa alasan, Pertama karena kurang berperannya ayah dalam kehidupan anak laki-laki. Kedua, karena sang ibu selalu memanjakan anak laki-lakinya seperti perempuan dengan membelikan mainan-mainan perempuan seperti boneka, alat- alat masak dan lain sebagainya. Ketiga, karena mereka ketika kecil lebih suka berinteraksi dengan anak perempuan seusia mereka (Harpan Reski mulia, 2021). Selain itu, hasil analisis data dari responden I yang menjadi waria karena awalnya dari kecil sangat dekat dan dimanjakan oleh sang ayah hingga menduduki bangku Smp namun ketika itu ayah dan ibunya bercerai sehingga responden I kehilangan sosok peran ayah dirumah dan mulai kecewa dengan sikap yang orangtuanya putuskan dan kecewa dengan tindakan sang ayah yang memilih pergi tanpa I yang begitu dekat dengannya sehingga responden I yangdulunya sering bercerita tentang segala hal kepada ayahnya, bermain dengan ayahnya, dananak yang paling ceria dirumah, mengakibatkan I melampiaskan kekecewaannya terhadapsang ayah dengan terjun kedunia malam dan menjadi waria serta lebih tertutup dilingkungan keluarga termasuk sang ibu dan saudaranya.

2.      Paternal Accessibility.

Paternal accessibility merupakan bentuk keterlibatan yang lebih rendah. Ayah ada di dekat anak tetapi tidak berinteraksi secara langsung dengan anak (Farida Hidayati dkk, 2011). Berdasarkan analisis data peneliti, ditemukan bahwa responden L menyatakan bahwa memiliki ayah namun tidak ada interaksi yang dibangun dengan sang ayah selain sekedar tegur sapa.

Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa alasan menjadi waria dikarenakan beberapa faktor diantaranya yakni kurangnya interaksi antara anak dengan ayah yang tidak pernah meluangkan waktu untuk bermain berdua dengan anak laki-lakinya, jarang mengajak anak berbincang berdua, hal tersebut terjadi karena sosk ayah yang sangat sibuk bekerja hingga kurang meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak laki-laki sehingga anak laki-lakinya kurang dalam memperoleh perancontoh laki- laki seperti apa. serta ditemukan juga bahwa faktor perceraian berpengaruh dalam merubah identitas diri anak laki-laki menjadi waria sebagai pelampiasan kekecewaan kepada kedua orang tuanya.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian aquilino (1994) yang menyatakan bahwa dampak yang terjadi pada anak dengan kehilangan peran sosok ayah terjadi tidak hanya di masa kanak-kanak, namun hingga ia dewasa. Pada individu dewasa yang mengalami perceraian orangtua, ditemukan kenyataan bahwa situasi tersebut membuatnya kehilangan komunikasi dengan ayah setelah perceraian terjadi. Anak laki-laki yang merasa tidak puas atas komunikasi yang dijalin dengan ayahnya dapat mengindikasikan adanya kekosongan figur dan keteladanan serta pengaruh ayah dalam hidupnya sehingga anak dapat tumbuh menjadi anak yang kehilangan jati diri dan mulai menimbulkan perilaku menyimpang (kock & lowery, 1984).

3.      Paternal Responsibility

Paternal responsibility merupakan bentuk keterlibatan yang mencakupi tanggung jawab dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengaturan (Farida Hidayati dkk, 2011). Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa alasan menjadi waria dikarenakan beberapa faktor diantaranya yakni dikarenakan kurangnya keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak, sehingga sejak kecil hingga dewasa selalu mengambil Keputusan sendiri tanpa memperoleh saran atau masukan dari ayah, padahal anak laki-laki membentuk dirinya melalui peran contoh yang ditirukan sang ayah dalam tumbuh kembang anak, Dimana hal ini berguna dalam pembentukan karakter anak, salah satu penyebab anak kehilangan peran sosok ayah dalam tumbuh kembangnya yakni karena ayah sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk anak karena kerjaan.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian target yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keterlibatan ayah sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak laki-laki, utamanya dalam pembentukan gender anak laki-laki yang harusnya mencontohi banyak peran dari sang ayah, namun karena ada faktor yang menyebabkan anak kehilangan sosok peran ayah selama masa pertumbuhan dan membuat anak laki-laki kehilangan sosok peran contoh lelaki dan akhirnya tumbuh menjadi waria yakni karena faktor ketidak lekatan anak pada ayah yang sibuk bekerja dan tidak bisa membagi waktu antara kerjaan dengan anak, serta akibat perceraian yang membuat anak dan ayah yang tadinya lekat menjadi berjarak. Hal ini disimpulkan berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan menggunakan tiga tema besar yakni Paternal engagement/Interaction, Paternal accessibility, dan Paternal responsibility.

 

REFERENSI

Alfaris, M. R. (n.d.). Di tengah masyarakat kota (Fenomenologi tentang eksistensi diri waria urbanisasi di Kota Malang). Journal of Social Science, 97–114.

Ashari, N. (2021). Konsep diri waria. Journal of Behavior and Mental Health, 2(2), 167–179.

Baumrind, D. (1966). Effects of authoritative parental control on child. Child Development, 37(4), 887–907.

Cabrera, N. J., Tamis-LeMonda, C. S., Bradley, R. H., Hofferth, S., & Lamb, M. E. (2000). Fatherhood in the twenty-first century. Child Development, 71(1), 127–136. https://doi.org/10.1111/1467-8624.00126

Dewi Rokhmah. (2015). Pola asuh dan pembentukan perilaku seksual berisiko terhadap HIV/AIDS pada waria. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(1), 125–134. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas

Farida, H., Sakti, D. V., & Kaloeti, K. (2011). Peran ayah dalam pengasuhan anak. Jurnal Psikologi Undip, 9(1), 1–10.

Joesyiana, K. (2018). Penerapan metode pembelajaran observasi lapangan (Outdoor study) pada mata kuliah manajemen operasional (Survei pada mahasiswa Jurusan Manajemen Semester III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Beserta Persada Bunda). PeKA: Jurnal Pendidikan Ekonomi Akuntansi FKIP UIR, 6(2), 90–103. https://journal.uir.ac.id/index.php/Peka/article/download/2740/1520

Khasan, M., & Sujoko, S. (2018). Perilaku koping waria (Studi fenomenologi kasus diskriminasi waria di Surakarta). Jurnal Sains Psikologi, 7(1), 99–106. https://doi.org/10.17977/um023v7i12018p99-106

Mulia, H. R. (2021). Gender dan orientasi seksual waria: Faktor pembentukannya pada lingkungan keluarga. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 6(1), 55–67. https://doi.org/10.33367/psi.v6i1.1328

Parmanti, P., & Purnamasari, S. E. (2015). Peran ayah dalam pengasuhan anak. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 17(2), 81. https://doi.org/10.26486/psikologi.v17i2.687

Prasanti, D. (2018). Penggunaan media komunikasi bagi remaja perempuan dalam pencarian informasi kesehatan. Lontar: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 13–21. https://doi.org/10.30656/lontar.v6i1.645

Prasetiya, B., Usman, M., & Syamsi, M. F. (2020). Makna religiusitas bagi kaum waria. Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 20(1), 95–108. https://doi.org/10.24042/ajsk.v20i1.5880

Septiani, E. A., & Santoso, A. (1972). O gun igō mittsu no densetsu. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 6(1), 35–50. http://jurnalbki.uinsby.ac.id/index.php/jurnalbki/article/view/47

Sri Muliati Abdullah. (2012). Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak (Paternal involvement): Sebuah tinjauan teoritis. Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wahyuni, A., Depalina, S., Wahyuningsih, R., Tinggi, S., Islam, A., & Mandailing, N. (2021). Peran ayah (Fathering) dalam pengasuhan anak usia dini. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2(2), 55–66.

Wandi, S., & Tri Nurharsono, A. R. (2013). Pembinaan prestasi ekstrakurikuler olahraga di SMA Karangturi Kota Semarang. Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations, 2(8), 524–535.

Wakari, R. B. (2019). Penggunaan jargon di kalangan waria Kota Bitung. Kajian Linguistik, 5(1), 1–19. https://doi.org/10.35796/kaling.5.1.2017.24789

Yuhana, A. N., & Aminy, F. A. (2019). Optimalisasi peran guru pendidikan agama Islam sebagai konselor dalam mengatasi masalah belajar siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7(1), 79.

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).