Preity Shalima Nirlia Putri1, Endang Purwaningsih2, Karimulloh3
Universitas YARSI, Indonesia123
Email: preity.snp@gmail.com1, endpurwaning@gmail.com2, karimulloh@yarsi.ac.id3
|
Abstrak |
|
Sindrom premenstrual (PMS) adalah kumpulan gejala
fisik dan mental yang muncul beberapa hari sebelum menstruasi dan dapat
memengaruhi produktivitas serta kesehatan mental wanita. Dua faktor yang
memengaruhi prevalensi PMS adalah pola makan dan indeks massa tubuh (IMT).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara pola makan dan
IMT dengan sindrom premenstrual pada mahasiswi angkatan 2022 dan 2023
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan sampel sebanyak 214 responden yang dipilih berdasarkan
kriteria tertentu. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi
yang dibagikan kepada responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji
bivariat dengan uji Chi Square, menggunakan perangkat lunak Statistical
Program for Social Sciences (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memiliki pola makan yang cukup baik (59,1%), tetapi
53% dari mereka berada pada rentang berat badan di atas normal. Sebagian
besar responden (61,9%) mengalami PMS. Analisis menunjukkan hubungan yang
signifikan antara pola makan dan IMT terhadap sindrom premenstrual. Dalam
pandangan Islam, terdapat hubungan antara pola makan dan PMS, namun tidak
ditemukan hubungan langsung antara IMT dan PMS karena konsep IMT tidak
dibahas secara spesifik dalam Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola
makan dan IMT berkontribusi terhadap prevalensi PMS, dengan temuan yang
relevan secara statistik dan pandangan agama, sehingga memberikan wawasan
baru untuk penelitian dan intervensi lebih lanjut. Kata kunci: Pola makan; Indeks massa tubuh; sindrom premenstrual; mahasiswa. |
|
|
|
Abstract |
|
Premenstrual
syndrome (PMS) is a collection of physical and mental symptoms that appear a
few days before menstruation and can affect a woman's productivity and mental
health. Two factors that influence the prevalence of PMS are diet and body
mass index (BMI). This study aims to evaluate the relationship between diet
and BMI with premenstrual syndrome in female students
class 2022 and 2023 of the Faculty of Medicine, YARSI University. This study
used a qualitative method with a sample of 214 respondents selected based on
certain criteria. Data were collected through questionnaires and observation
sheets distributed to respondents. Data analysis was performed using
bivariate test with Chi Square test, using Statistical Program for Social
Sciences (SPSS) software. The results showed that most of the respondents had
a fairly good diet (59.1%), but 53% of them were in the above-normal weight
range. Most of the respondents (61.9%) experienced PMS. Analysis showed a
significant relationship between diet and BMI on premenstrual syndrome. In
the Islamic view, there is a relationship between diet and PMS, but no direct
relationship was found between BMI and PMS because the concept of BMI is not
specifically discussed in Islam. This study concludes that diet and BMI
contribute to the prevalence of PMS, with findings that are relevant
statistically and religiously, thus providing new insights for further
research and interventions. Keywords: Diet; Body mass index; premenstrual
syndrome; university students. |
*Correspondence
Author: Preity Shalima Nirlia Putri
Email:
preity.snp@gmail.com
PENDAHULUAN
Pendahuluan
menyajikan dasar-dasar teori mengenai PMS, gejala, serta faktor-faktor yang
memengaruhi prevalensinya, seperti pola makan dan IMT. Artikel juga berhasil
menyentuh aspek penting dari gejala PMS dalam konteks remaja, khususnya
mahasiswa kedokteran. Namun, diperlukan penjelasan lebih rinci mengenai alasan
penggunaan perspektif Islam sebagai salah satu sudut pandang, sehingga pembaca
dapat memahami kontribusi unik yang ingin disampaikan artikel ini.
World
Health Organization (WHO) mengatakan remaja adalah orang yang berusia 10 hingga
19 tahun (Daiyah et al., 2021). Masa remaja adalah saat tubuh
seseorang mencapai kematangan emosional, psikososial, dan fungsi reproduksi.
Seseorang wanita yang mengalami menstruasi dianggap mengalami masa reproduksi.
Gangguan biasanya muncul pada tahun-tahun awal menstruasi (Safitri & Rachmawati, 2016).
Salah
satu aspek penting dari siklus kehidupan wanita adalah menstruasi. Perubahan
fisik dan mental yang terjadi sebelum dan selama menstruasi dapat disebabkan
oleh perubahan hormon yang berlangsung selama siklus menstruasi. Sebelum
menstruasi, wanita biasanya mengalami satu atau lebih gejala fisik maupun
mental, seperti sifat mudah marah, mood yang buruk, mudah menangis, dan
perubahan mood. Gejala fisik yang biasa terjadi meliputi kram perut, kelelahan,
kembung, nyeri payudara (dikenal sebagai mastalgia), munculnya jerawat, dan
penambahan berat badan. Sindrom premenstrual adalah
kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh wanita (Afifah et al., 2020).
Sindrom
premenstrual (PMS) adalah kumpulan gejala fisik dan mental yang biasanya muncul
satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya menstruasi dan biasanya
hilang sesudah menstruasi, walaupun kadang-kadang berlangsung sampai haid
berhenti. Sindrom pre menstruasi dapat berdampak negatif pada produktivitas dan
kesehatan mental wanita. Dua faktor yang memengaruhi prevalensi sindrom
pramenstruasi adalah aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (BMI) (Daiyah et al., 2021). Selama fase luteal dari siklus
menstruasi, seseorang mengalami gejala dan perilaku somatik yang dikenal
sebagai sindrom premenstrual. Gejala ini tidak dapat dijelaskan secara medis
dan biasanya hilang saat fase menstruasi berakhir.
Faktor
gaya hidup adalah salah satu penyebab premenstrual syndrome. Premenstrual
syndrome diduga dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, terutama
pada remaja perempuan. Aktivitas olahraga, indeks massa tubuh, konsumsi makanan
asin dan manis, dan jumlah makanan lain yang dapat mempengaruhi kejadian
premenstrual syndrome (Safitri & Rachmawati, 2016).
Remaja
dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dari normal lebih cenderung
mengalami premenstrual syndrome daripada remaja dengan indeks massa tubuh
normal. Remaja dengan indeks massa tubuh yang lebih tinggi dari normal memiliki
kecenderungan untuk menghasilkan lebih banyak hormon estrogen, yang menyebabkan
gejala PMS.
Penanganan
premenstrual syndrome adalah berolahraga secara teratur, menjaga berat badan,
dan menjaga pola makan yang sehat. Biasanya, IMT dengan berat badan berlebih
(overweight) memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami premenstrual
syndrome, sedangkan berat badan normal cenderung memiliki perlindungan terhadap
PMS. Pola makan sehat, mempertahankan IMT yang seimbang, dan mengelola stres
dapat membantu mengurangi risiko PMS.
Dalam
pandangan Islam, pola makan sehat ditekankan melalui prinsip mengonsumsi
makanan yang halal dan thayyib (baik) serta dengan menjaga keseimbangan (Jannah et al., 2020). Seperti dalam firman Allah SWT
dalam QS. Abasa ayat 24, yaitu:
Artinya:
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”
Dalam
perspektif Islam, pola makan yang sehat dan keseimbangan dalam Indeks Massa
Tubuh (IMT) berperan penting dalam meminimalisir gejala sindrom pramenstruasi
(PMS). Pola makan yang baik, terutama asupan karbohidrat yang cukup, telah
terbukti berhubungan dengan pengurangan gejala PMS pada remaja. Pola hidup
sehat dan seimbang mampu menjaga IMT yang ideal dan membantu mencegah gangguan
kesehatan, yang sejalan dengan ajaran Islam tentang moderasi dan keseimbangan (Maulana et al., 2023).
Meskipun
sudah ada beberapa penelitian yang membahas mengenai kondisi ini, tetapi masih
diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam
bagaimana hubungan antara pola makan, dan indeks massa tubuh dengan
premenstrual syndrome. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan di atas,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Pola
Makan, dan Indeks Massa Tubuh dengan Sindrom Pre Menstrual pada mahasiswi
angkatan 2022 dan 2023 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI” yang diharapkan
dapat memberikan wawasan tambahan dan pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi
kondisi tersebut.
Berdasarkan
uraian di atas, pertanyaan penelitian ini adalah: "Apakah ada hubungan
antara Pola Makan dan Indeks Massa Tubuh dengan Sindrom Premenstrual pada
Mahasiswi Angkatan 2022 dan 2023 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI?"
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola makan, IMT,
dan PMS, serta menggambarkan kondisi tersebut dalam konteks Islam.
Manfaat
dari penelitian ini mencakup peningkatan pemahaman mengenai pengaruh pola makan
dan IMT terhadap PMS, baik untuk individu maupun lembaga pendidikan. Secara
teoritis, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi literatur tambahan dan
sumber informasi yang berguna dalam bidang kesehatan reproduksi. Dari segi
metodologis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan
penelitian lebih lanjut mengenai pola makan, IMT, dan PMS.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan
dan indeks massa tubuh (IMT) dengan sindrom premenstrual pada mahasiswi
angkatan 2022 dan 2023 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Populasi
penelitian terdiri dari seluruh mahasiswi angkatan 2022 dan 2023, dengan total
populasi sebanyak 455 orang, yang terdiri dari 215 mahasiswi angkatan 2022 dan
240 mahasiswi angkatan 2023. Sampel penelitian ditetapkan sebanyak 214
responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Kriteria inklusi
meliputi berjenis kelamin perempuan, bersedia menjadi responden dengan
menandatangani lembar persetujuan, dan mengisi kuesioner serta lembar
penelitian secara lengkap.
Data dalam penelitian ini
diperoleh dari sumber data primer melalui kuesioner dan lembar observasi dalam
format Google Form. Proses pengumpulan data melibatkan distribusi kuesioner
kepada mahasiswi yang memenuhi kriteria. Setelah data terkumpul, analisis
dilakukan menggunakan uji bivariat untuk mengevaluasi hubungan antara pola
makan dan IMT dengan sindrom premenstrual, dengan menggunakan uji Chi Square
melalui perangkat lunak Statistical Program for Social Sciences (SPSS). Hasil
penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai
faktor-faktor yang berkontribusi terhadap sindrom premenstrual dan menjadi
dasar untuk penelitian lebih lanjut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Tahap analisis univariat,
meliputi deskripsi karakteristik responden berdasarkan usia dan angkatan
kuliah, serta distribusi masing-masing variabel bebas (BMI dan pola makan) dan
variabel terikat (PMS).
Pada Tabel 1 di bawah ini,
menyajikan distribusi frekuensi dari dua variabel demografi responden, yaitu
usia dan tahun angkatan kuliah. Berdasarkan data yang diperoleh, sebagian besar
responden berusia kurang dari 20 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas
partisipan dalam penelitian ini masih tergolong dalam kelompok usia muda.
Mengenai tahun angkatan kuliah, terdapat distribusi yang relatif seimbang
antara kedua tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa sampel penelitian terdiri dari
mahasiswa yang berasal dari dua angkatan yang berdekatan, dengan proporsi yang
hampir sama.
Tabel 1. Karakteristik Responden
|
Variable |
Jumlah (n) |
Persentase (%) |
|
Usia |
|
|
|
<20
Tahun |
125 |
58,1 |
|
≥20 Tahun |
90 |
41,9 |
|
Tahun
Angkatan Kuliah |
|
|
|
2022 |
107 |
49,8 |
|
2023 |
108 |
50,2 |
Tabel 2 dibawah, menunjukkan distribusi
indeks massa tubuh (IMT) pada sampel penelitian. Hasil analisis menunjukkan
bahwa kategori berat badan normal merupakan kategori dengan frekuensi
tertinggi, diikuti oleh obesitas derajat 1 dan kategori pre-obesitas. Kategori
berat kurang dan obesitas derajat 2 memiliki frekuensi yang lebih rendah. Hasil
ini dapat menunjukkan bahwa responden dengan berat badan normal, prevalensi
obesitas, terutama obesitas derajat 1, cukup tinggi pada populasi yang
diteliti.
Tabel 2 Gambaran distribusi Indeks Masa Tubuh (IMT)
|
IMT |
Jumlah
(n) |
Persentase
(%) |
|
Berat Kurang |
34 |
15,8% |
|
Berat Badan Normal |
67 |
31,2% |
|
Pre obesitas |
48 |
22,3% |
|
Obesitas Grade 1 |
57 |
26,5% |
|
Obestias Grade 2 |
9 |
4,2% |
Pada Tabel 3 dibawah ini,
menunjukkan distribusi pola makan responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa
mayoritas responden memiliki pola makan yang cukup, diikuti dengan responden
yang memiliki pola makan baik dan paling sedikit responden yang memiliki pola
makan buruk.
Tabel 3 Gambaran Distribusi Pola Makan Responden
|
Pola
Makan |
Jumlah
(n) |
Persentase
(%) |
|
Pola Makan Buruk |
34 |
15,8% |
|
Pola Makan Cukup |
127 |
59,1% |
|
Pola Makan Baik |
54 |
25,1% |
Pada Tabel 4. dibawah ini,
menyajikan distribusi frekuensi dari gejala Premenstrual Syndrome (PMS) pada
sampel penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden
mengalami gejala PMS dan sebagian kecil responden yang melaporkan tidak
mengalami gejala PMS. Berdasarkan hasil analisis di bawah, menunjukkan bahwa
prevalensi gejala PMS pada sampel penelitian ini cukup tinggi. Hampir dua
pertiga dari responden melaporkan mengalami gejala PMS.
Tabel 4 Gambaran Distribusi Gejala Pre-mestrual
syndrome PMS
|
PMS |
Jumlah (n) |
Persentase (%) |
|
Tidak Mengalami PMS |
82 |
38.1 |
|
Mengalami PMS |
133 |
61.9 |
Analisis Bivariat
Pada analisis bivariat akan
dijabarkan hubungan antara variabel bebas yaitu pola makan responden dengan
variabel terikat yaitu kejadian gejala PMS (Tabel 5) dan variabel bebas yaitu
IMT responden dengan variabel terikat yaitu kejadian gejala PMS (Tabel 6).
Seluruh hasil akan ditampilkan
dalam bentuk tabulasi silang dengan menampilkan jumlah masing sel desertai
dengan persetase yang mengacu pada baris tabel (percentages by row). Analisis
signifikansi hubungan kedua variabel menggunakan uji chi-square dikarenakan
kedua variabel bersifat kategorik.
Analisis Tabel 5 menunjukkan
adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian PMS (p-value
< 0,05). Semakin buruk pola makan seseorang, semakin tinggi kemungkinan
mereka mengalami PMS. Hal ini terlihat jelas dari data, di mana kelompok dengan
pola makan buruk sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok dengan pola makan
cukup dan pola makan baik tampak memiliki kejadian PMS paling rendah.
Tabel 5 Analisis bivariat hubungan pola makan dan
kejadian PMS
|
Variable |
PMS |
Total |
P value |
|
|
Tidak PMS |
PMS |
|||
|
Pola Makan Buruk |
9 |
25 |
34 |
0,000 |
|
26.5% |
73.5% |
100.0% |
||
|
Pola Makan Cukup |
24 |
103 |
127 |
|
|
18.9% |
81.1% |
100.0% |
||
|
Pola Makan Baik |
49 |
5 |
54 |
|
|
90.7% |
9.3% |
100.0% |
||
Pada Tabel 6 terlihat bahwa
kejadian PMS cenderung lebih sedikit pada individu dengan IMT kategori normal.
Sedangkan pada pasien dengan berat badan kurang, obesitas grade 1 dan 2 tampak
lebih banyak responden dengan kejadian PMS. Khusus pada pasien dengan kategori
pre-obestias, memiliki persentase yang hampir sama antara yang mengalami PMS
dan tidak PMS. P value <0,05 menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
IMT dengan kejadian PMS.
Tabel 6 Analisa bivariat hubungan IMT dan kejadian
PMS
|
Variable |
PMS |
Total |
P value |
|
|
Tidak PMS |
PMS |
|||
|
Berat Kurang |
11 |
23 |
34 |
0,000 |
|
32.4% |
67.6% |
100.0% |
||
|
Berat Badan Normal |
41 |
26 |
67 |
|
|
61.2% |
38.8% |
100.0% |
||
|
Pre obesitas |
22 |
26 |
48 |
|
|
45.8% |
54.2% |
100.0% |
||
|
Obesitas Grade 1 |
8 |
49 |
57 |
|
|
14.0% |
86.0% |
100.0% |
||
|
Obestias Grade 2 |
0 |
9 |
9 |
|
|
0.0% |
100.0% |
100.0% |
||
Pembahasan
Pada karakteristik responden
didapatkan rentang usia terbanyak adalah <20 tahun. Hubungan antara usia dan
gejala PMS sangat dipengaruhi oleh fluktuasi hormon. Pada remaja,
ketidakstabilan hormon seringkali memicu mood swings yang khas. Saat dewasa muda,
gejala fisik seperti nyeri perut dan kembung lebih dominan akibat peningkatan
produksi prostaglandin. Menjelang menopause, penurunan hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan gejala PMS yang lebih kompleks. Selain hormon, faktor
lain seperti sistem saraf pusat, sistem imun, dan genetik juga berperan dalam
munculnya gejala PMS. Dengan memahami mekanisme fisiologis di balik PMS, kita
dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengelola gejala tersebut
(Hantsoo et al., 2022).
Hasil indeks masa tubuh
responden pada penelitian ini menunjukan sebagian besar responden berada pada
rentang berat badan normal. Meski demikian bila dilakukan penjumlahan,
responden yang memiliki berat badan lebih mencapai 53%. Hasil ini hampir serupa
dengan penelitian oleh Hantsoo, L., Rangaswamy, S., Voegtline, K., Salimgaraev,
R., Zhaunova, L., & Payne, J. L. (2022). Premenstrual symptoms across the
lifespan in an international sample: data from a mobile application. Archives
of Women’s Mental Health, 25(5), 903–910.
https://doi.org/10.1007/s00737-022-01261-5
Kei et al (2023) yang
dilakukan pada mahasiswa kedokteran Indonesia, menunjukan hasil sektiar 58,1%
responden berada pada rentang overweight hingga obesitas grade. Hubungan antara pengetahuan
nutrisi dan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada mahasiswa kedokteran dapat memberikan
wawasan mengenai dampak pemahaman nutrisi terhadap berat badan dan kesehatan
mereka. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan nutrisi yang lebih
baik dapat terkait dengan IMT yang lebih sehat, yang berarti mahasiswa dengan
pemahaman lebih baik tentang pedoman diet cenderung memiliki berat badan yang
lebih terjaga. Namun, penelitian lain mengindikasikan bahwa pengetahuan yang
tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan IMT yang lebih rendah, karena
faktor-faktor seperti kebiasaan makan emosional, status sosial ekonomi, dan
akses terhadap makanan sehat juga berperan penting. Pada mahasiswa kedokteran,
meskipun mereka memiliki pengetahuan yang baik mengenai nutrisi, penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari mungkin terhambat oleh jadwal yang padat dan stres, yang
dapat mempengaruhi pola makan mereka. Oleh karena itu, intervensi yang efektif
harus tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membantu mahasiswa
mengatasi hambatan dalam menerapkan kebiasaan makan sehat dan mendukung
perubahan perilaku yang berkelanjutan (Ghazi et al., 2018).
Hasil penelitian ini juga
menunjukan bahwa IMT memilik hubungan yang signfiikan dengan PMS, (P value
0,000). Tampak pada tabel 8 kejadian PMS memiliki persenteasi terendah pada
responden dengan berat badan normal. Sedangkan pasien dengan obesitas memiliki persentasi
kejadian PMS mencapai lebih dari 80%. Beberapa studi mengindikasikan bahwa
wanita dengan IMT lebih tinggi cenderung mengalami gejala PMS yang lebih berat,
yang dapat dijelaskan melalui mekanisme molekuler dan fisiologi. Obesitas, yang
sering kali dikaitkan dengan IMT tinggi, menyebabkan peningkatan kadar estrogen
karena konversi androgen menjadi estrogen di jaringan adiposa. Peningkatan
estrogen ini dapat meningkatkan sensitivitas terhadap fluktuasi hormon dalam
siklus menstruasi, memperburuk gejala PMS, seperti iritabilitas dan perubahan
mood. Selain itu, resistensi insulin yang sering terjadi pada wanita dengan IMT
tinggi juga dapat memengaruhi fungsi ovarium dan produksi hormon, yang
berpotensi memperburuk gejala PMS. Proses inflamasi kronis yang terjadi pada
obesitas, dengan peningkatan kadar sitokin pro-inflamasi, seperti TNF-alpha dan
IL-6, juga dapat memengaruhi sistem neurotransmitter yang terlibat dalam
regulasi mood, memperburuk gejala emosional PMS (Mizgier et al., 2019; Sharifan et al., 2023).
Berdasarkan hasil pola makan tampak
sebagian besar responden memiliki pola makan yang cukup baik dilanjutkan dengan
responden yang memiliki pola makan baik. Hanya sedikit responden dengan pola
makan buruk. Pola makan mahasiswa kedokteran dipengaruhi oleh berbagai faktor,
termasuk stres akademik, keterbatasan waktu, keterbatasan finansial,
pengetahuan nutrisi, pengaruh psikososial, dan faktor lingkungan. Mengatasi
faktor-faktor ini melalui intervensi yang terarah, seperti meningkatkan akses
ke pilihan makanan sehat yang terjangkau di kampus, mempromosikan strategi
manajemen stres yang efektif, dan meningkatkan pendidikan nutrisi, dapat secara
signifikan memperbaiki kebiasaan makan mahasiswa kedokteran. Dengan menciptakan
lingkungan yang mendukung perilaku makan sehat, institusi pendidikan dapat
memainkan peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan calon profesional
kesehatan di masa depan (Marshellina et al., 2023).
Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa pola makan mempengaruhi PMS dengan P value (0,000). Tampak
kejadian PMS lebih sering terjadi pada responden dengan pola makan buruk. Pola
makan dan jenis makanan dapat mempengaruhi gejala PMS melalui berbagai mekanisme
fisiologis. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi,
yang terkait dengan gejala PMS, dapat dipengaruhi oleh jenis makanan yang
dikonsumsi. Makanan tinggi gula dan lemak dapat meningkatkan kadar estrogen
atau mengganggu keseimbangan hormon, memperburuk sensitivitas terhadap
perubahan hormon yang terjadi selama fase luteal. Selain itu, konsumsi makanan
yang tinggi karbohidrat sederhana dan lemak tidak sehat dapat memengaruhi kadar
neurotransmitter seperti serotonin dan GABA, yang berperan dalam regulasi mood
dan stabilitas emosi, menyebabkan gejala seperti kecemasan dan iritabilitas.
Diet yang tinggi makanan olahan, gula, dan lemak jenuh juga dapat meningkatkan
peradangan kronis, memperburuk gejala fisik seperti nyeri dan pembengkakan.
Sebaliknya, pola makan seimbang yang kaya akan makanan utuh, omega-3, dan
magnesium dapat membantu mengurangi peradangan dan mendukung keseimbangan
neurotransmitter, sehingga meredakan gejala PMS (Helmy et al., 2023).
Sementara itu, dalam pandangan
Islam, pola makan sehat ditekankan melalui prinsip mengonsumsi makanan yang
halal, thayyib (baik) dan makan tidak berlebihan (Jannah et al., 2020). Menjaga pola makan seimbang
dan makan berlebihan adalah prinsip penting yang mendukung kesehatan secara
keseluruhan, termasuk dalam mengelola IMT dan kesehatan hormonal untuk
meringankan gejala PMS. Prinsip ini dapat dilihat dari anjuran untuk makan
secukupnya tanpa berlebihan. Penelitian oleh Thakur et al. (2022) menunjukkan
bahwa IMT tinggi serta asupan kalori yang berlebihan dapat meningkatkan keparahan
gejala PMS. Studi ini menemukan bahwa perempuan dengan IMT lebih rendah yang
mengikuti pola makan sehat mengalami gejala PMS yang lebih ringan, yang
mendukung ajaran Islam untuk menghindari konsumsi berlebihan sebagai bentuk
menjaga keseimbangan tubuh (Thakur et al., 2022).
Tidak ditemukan adanya
hubungan antara pola makan dan IMT karena IMT tidak dibahas secara rinci di
dalam islam tetapi IMT berkaitan dengan pola hidup sehat, aktivitas fisik, dan
olahraga. Menjaga kesehatan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara salah satunya
adalah pola hidup sehat dengan menjaga pola makan. Pola makan adalah hal utama
dalam penentu kesehatan (Salim & Rusmana, 2022). Ketika seseorang tidak menjaga
kesehatan akan berdampak pada terhambat atau terganggunya aktivitas sehari-hari
karena turunnya sistem imun dalam tubuh, salah satu contohnya mudah lelah (Puspitasari, 2022).
Ajaran Islam yang menekankan
keseimbangan dan pengendalian diri, terutama dalam menjaga pola makan dan
aktivitas fisik, mencerminkan prinsip kesehatan yang dapat mendukung
pengelolaan IMT dan mengurangi risiko serta gejala PMS. Rasulullah SAW
bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu
memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga tubuh agar tetap sehat
dengan pola makan dan aktivitas yang seimbang adalah bagian dari amanah yang
diberikan oleh Allah SWT. Dengan menjaga IMT dan mengonsumsi makanan bergizi,
seorang Muslim dapat mengurangi risiko masalah kesehatan termasuk gangguan
hormonal seperti PMS. Penelitian lain mengidentifikasi hubungan antara pola
makan dan aktivitas fisik dengan pengendalian IMT. Hasil ini menunjukkan bahwa
pola hidup sehat dan seimbang mampu menjaga IMT yang ideal dan membantu
mencegah gangguan kesehatan, yang sejalan dengan ajaran Islam tentang moderasi
dan keseimbangan (Maulana et al., 2023).
Selain aktivitas fisik, pola
makan juga bisa di seimbangkan dengan olahraga. Olah raga menjadi bagian
penting bagi banyak orang sebagai gaya hidup sehat. Salah satu ajaran
Rasululloh SAW adalah olahraga yang berkaitan dengan dasar kemiliteran untuk
menumbuhkan keberanian umatnya seperti seperti berkuda, berenang, dan memanah,
yang mencakup aspek kesehatan, keterampilan, dan sportivitas (Wijaya & Saefullah, 2024).
Dalam Islam, menstruasi
dianggap sebagai cobaan kesehatan yang diberikan Allah SWT kepada Wanita,
dengan gejala yang bervariasi antara individu. Menjaga kesehatan tubuh,
termasuk pola makan yang sehat, adalah bagian dari amanah yang harus dijaga.
Islam mengajarkan pentingnya konsumsi makanan yang halal, thayyib (baik), dan
tidak berlebihan, yang mendukung pengelolaan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan
meringankan gejala sindrom premenstrual (PMS). Penelitian menunjukkan bahwa
pola makan sehat dan IMT ideal dapat mengurangi keparahan gejala PMS, sejalan
dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan tubuh dan penghindaran
konsumsi makan berlebihan. Selain itu, olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah
SAW, seperti berkuda, berenang, dan memanah, berperan penting dalam menjaga
kesehatan tubuh dan mengelola IMT. Ajaran Islam tentang menjaga tubuh sebagai
amanah Allah SWT menekankan pentingnya keseimbangan pola makan dan aktivitas
fisik untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan.
KESIMPULAN
Kesimpulan
dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar Mahasiswi Angkatan 2022
dan 2023 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI memiliki pola makan yang cukup
baik, dengan 59,1% responden berada dalam kategori ini, sedangkan 25,1%
memiliki pola makan baik dan 15,8% tergolong buruk. Selain itu, 53% dari mereka
berada pada kategori overweight dan obesitas (grade 1 dan 2), sementara hanya
31,2% yang memiliki berat badan normal. Penelitian juga menemukan bahwa 61,9%
responden mengalami sindrom premenstrual (PMS). Terdapat hubungan signifikan
antara pola makan dan indeks massa tubuh (IMT) terhadap PMS, serta hubungan antara
pola makan dan PMS dalam konteks Islam; namun, tidak ditemukan hubungan antara
IMT dan PMS karena IMT tidak dibahas secara rinci dalam ajaran Islam. Implikasi
dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya intervensi untuk meningkatkan
pola makan yang sehat di kalangan mahasiswi, serta perlunya program edukasi
yang lebih komprehensif mengenai dampak IMT dan PMS, yang dapat membantu dalam
pengembangan aplikasi kesehatan dan kajian lebih lanjut di bidang ini.
Afifah, H. N., Sariati, Y., & Wilujeng, C. S. (2020).
Hubungan antara pola makan dan asupan karbohidrat dengan kejadian premenstrual
syndrome (PMS) pada mahasiswi Program Studi S1 Kebidanan Universitas Brawijaya
dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) normal. Journal of Issues in Midwifery, 4(1),
20–28. https://doi.org/10.21776/ub.JOIM.2020.004.01.3
Daiyah, I., Rizani, A., & Adella, E. R.
(2021). Hubungan antara aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) dengan
kejadian pre-menstrual syndrome pada remaja putri. Jurnal Inovasi Penelitian,
2(7), 2273–2286.
Ghazi, H. F., Abdalqader, M. A., Baobaid,
M. F., Hasan, T. N., Alabed, A. A. A., Veerabadran, V., Abdalrazak, H. A.,
Gazi, T. M., Hassan, M. R., & Hasan, T. N. (2018). Obesity knowledge and
its associated factors among medical students in a private university in Shah
Alam, Selangor. Malaysian Journal of Public Health Medicine, 18(2),
45–51.
Hantsoo, L., Rangaswamy, S., Voegtline, K.,
Salimgaraev, R., Zhaunova, L., & Payne, J. L. (2022). Premenstrual symptoms
across the lifespan in an international sample: data from a mobile application.
Archives of Women’s Mental Health, 25(5), 903–910.
https://doi.org/10.21776/ub.JOIM.2020.004.01.3
Helmy, N. A., Kamel, D. M., Gabr, A. A.,
& Shehata, M. M. A. (2023). Do dietary habits affect the premenstrual
syndrome severity among a cohort of Egyptian females? A cross-sectional study. Bulletin
of Faculty of Physical Therapy, 28(1), 11.
https://doi.org/10.1186/s43161-023-00122-1
Jannah, H., Dharmawibawa, I. D., Harisanti,
B. M., Muliadi, A., & Primawati, S. N. (2020). Pemberdayaan Kesehatan
Mandiri Santri Melalui Teknologi Budidaya Toga Berbasis Peningkatan Imun Tubuh
di Pondok Pesantren Aliyah Nurul Islam Sekarbela. Lumbung Inovasi: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 23–29.
https://doi.org/10.36312/linov.v5i1.461
Marshellina, C. J., Tejoyuwono, A. A. T.,
& Irsan, A. (2023). Factors Affecting Patterns of Fast Food Consumption in
Students of Medical Study Program Faculty of Medicine Tanjungpura University. Journal
of Agromedicine and Medical Sciences, 9(3), 146–155.
https://doi.org/10.19184/ams.v9i3.4150
Maulana, A. H., Indriyanti, R. A., &
Hendryanny, E. E. (2023). Hubungan Aktivitas Fisik dan Pola Makan dengan Body
Mass Index Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun
Akademik 2021/2022 Selama Pembelajaran Daring. Bandung Conference Series:
Medical Science, 3(1), 702–708.
Mizgier, M., Jarzabek-Bielecka, G.,
Jakubek, E., & Kedzia, W. (2019). The relationship between body mass index,
body composition and premenstrual syndrome prevalence in girls. Ginekologia
Polska, 90(5), 256–261.
Puspitasari, R. (2022). Pola Hidup Sehat
Menurut Al-Qur’an:(Kajian Maudhu’i Terhadap Ayat-ayat Kesehatan). INOVATIF:
Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, 8(1), 133–163.
https://doi.org/10.55148/inovatif.v8i1.268
Safitri, R., & Rachmawati, K. (2016).
Faktor-Faktor Resiko Kejadian Premenstrual Syndrome Pada Remaja SMA Darul
Hijrah Puteri. Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan, 4(2),
118–123.
Salim, M. N. N., & Rusmana, D. (2022).
Konsep Pola Makan menurut Al-Qur’an dalam Kajian Tafsir Tematik. Islamic
Review: Jurnal Riset Dan Kajian Keislaman, 11(1), 73–94.
https://doi.org/10.35878/islamicreview.v11i1.334
Sharifan, P., Jafarzadeh Esfehani, A.,
Zamiri, A., Ekhteraee Toosi, M. S., Najar Sedgh Doust, F., Taghizadeh, N.,
Mohammadi-Bajgiran, M., Ghazizadeh, H., Khorram Rouz, F., & Ferns, G.
(2023). Factors associated with the severity of premenstrual symptoms in women
with central obesity: a cross-sectional study. Journal of Health, Population
and Nutrition, 42(1), 9.
Thakur, H., Pareek, P., Sayyad, M. G.,
& Otiv, S. (2022). Association of premenstrual syndrome with adiposity and
nutrient intake among young indian women. International Journal of Women’s
Health, 665–675.
Wijaya, B., & Saefullah, D. I. (2024).
Analisis Olah Raga Menurut Prespektif Sunah Rosululloh Saw Dalam Implikasi
Kesehatan Jasmani dan Rohani. ISLAMISCHE BILDUNG: Jurnal Pendidikan Agama
Islam, 2(01).
|
|
© 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication
under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |