Saleha Salihun1, Ririn
Andasari2, Atik Handariati3
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Dustira,
Indonesia123
Email: salehasalihun862@gmail.com
|
Abstrak |
|
Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan efektivitas antara latihan Buerger
Allen dan senam kaki dalam meningkatkan sirkulasi darah perifer pada pasien
diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan studi komparatif yang
menerapkan desain pretest-posttest dengan dua kelompok yang dipasangkan.
Sebanyak 32 pasien diabetes melitus tipe 2 terlibat, yang dibagi menjadi dua
kelompok, masing-masing terdiri dari 16 pasien. Kelompok pertama mendapatkan
perlakuan latihan Buerger Allen, sedangkan kelompok kedua menerima perlakuan
senam kaki. Sebelum perlakuan, kedua kelompok akan menjalani pretest untuk
menilai sirkulasi darah perifer dengan menggunakan Ankle Brachial Index (ABI)
pada minggu pertama. Posttest akan dilakukan pada minggu kedelapan setelah 24
kali perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan uji analisis Paired
t-test, terdapat peningkatan nilai ABI dengan nilai p = 0,001. Selanjutnya,
hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa latihan Buerger Allen memiliki
selisih peningkatan sirkulasi darah perifer yang ditandai dengan peningkatan
nilai ABI yang lebih tinggi dibandingkan dengan senam kaki. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah bahwa latihan Buerger Allen lebih efektif dibandingkan
senam kaki dalam meningkatkan sirkulasi darah perifer. Implikasi dari hasil ini
menunjukkan perlunya mempertimbangkan penggunaan latihan Buerger Allen sebagai intervensi utama dalam program rehabilitasi untuk pasien diabetes melitus tipe 2 guna meningkatkan kualitas hidup mereka melalui peningkatan sirkulasi darah. Kata kunci: Buerger
allen exercise, senam kaki, ABI |
|
|
|
Abstract |
|
This study aims to
identify the difference in effectiveness between Buerger Allen exercises and
foot exercises in improving peripheral blood circulation in patients with
type 2 diabetes mellitus. This study is a comparative study that applies a
pretest-posttest design with two paired groups. A total of 32 patients with
type 2 diabetes mellitus were involved, which were divided into two groups,
each consisting of 16 patients. The first group received Buerger Allen's
training treatment, while the second group received foot gymnastics
treatment. Prior to the treatment, both groups will undergo a pretest to
assess peripheral blood circulation using the Ankle Brachial Index (ABI) in
the first week. The posttest will be carried out in the eighth week after 24
treatments. The results of the study showed, based on the Paired t-test
analysis test, there was an increase in ABI values with a value of p = 0.001.
Furthermore, the results of the independent t-test showed that Buerger Allen
exercises had a difference in increasing peripheral blood circulation which
was characterized by a higher increase in ABI values compared to foot
exercises. The conclusion of this study is that Buerger Allen exercises are
more effective than foot exercises in improving peripheral blood circulation.
The implications of these results point to the need to consider the use of
Buerger Allen exercises as the main intervention in rehabilitation programs
for type 2 diabetes mellitus patients to improve their quality of life
through improved blood circulation. Keywords: Buerger Allen exercise, foot exercises,
ABI |
*Correspondence
Author: Saleha Salihun
Email:
salehasalihun862@gmail.com
PENDAHULUAN
Diabetes
mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa
dalam darah, yang menyebabkan gejala hiperglikemia (Asmat et al., 2016;
Villena, 2015). Untuk
menjaga kestabilan kadar glukosa darah, diperlukan terapi insulin atau obat
yang merangsang sekresi insulin (Trianto & Hastuti, 2017). Di Indonesia prevalensi diabetes mellitus
selama 10 tahun terakhir mengalami peningkatan. International Diabetes
Federation (IDF) melaporkan bahwa jumlah penderita diabetes mellitus meningkat
menjadi 463 juta, dengan prevalensi mencapai 9,3 persen (Atlas, 2019).
Diabetes
mellitus tipe 2 disebabkan oleh penurunan sensitivitas insulin, yang mengurangi
kemampuan tubuh untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan (Utami & Amala,
2021; Zainuddin & Utomo, 2015). Hal
ini mengakibatkan penumpukan glukosa dalam darah, yang disebut hiperglikemia (Hall & Hall, 2020). Pada penderita diabetes mellitus tipe 2,
terdapat dua masalah utama: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Resistensi
insulin menyebabkan hiperglikemia, yang mengakibatkan tubulus renalis tidak
mampu menyerap glukosa secara efektif, sehingga terjadi glukosuria. Hiperglikemia dalam waktu yang lama menyebabkan
penyempitan pembuluh darah oleh plak, yang mengakibatkan gangguan pada
sirkulasi darah perifer. Gangguan sirkulasi perifer pada arteri akan menyebabkan beberapa komplikasi seperti
ulkus, gangrene dan proses penyembuhan luka dalam waktu yang lambat jika pasien
mengalami perlukaan, hingga amputasi (Astuti, 2017).
Terdapat
beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan oleh penderita diabetes mellitus
tipe 2 untuk membantu meningkatkan sirkulasi darah perifer, di antaranya adalah
Buerger Allen exercise dan senam kaki (Nur et al., 2021;
Wahyuni, 2016). Pemilihan kedua metode
latihan ini didasarkan pada prinsip dasar fisiologis yang mendasari efektivitas
masing-masing. Buerger Allen exercise dirancang khusus untuk mengatasi
insufisiensi arteri tungkai bawah dengan memanfaatkan perubahan gravitasi dan
efek pompa otot (Nadrati &
Supriatna, 2021). Latihan ini melibatkan
gerakan dorsofleksi dan plantarfleksi secara aktif dari pergelangan kaki, yang
terbukti efektif dalam meningkatkan sirkulasi darah perifer pada tungkai bawah (Bryant & Nix, 2015). Di sisi lain, senam kaki
terdiri dari beberapa gerakan aktif yang dapat dilakukan secara rutin oleh
pasien, sehingga menawarkan kemudahan dalam pelaksanaannya.
Meskipun
Buerger Allen exercise menawarkan pendekatan yang lebih terarah terhadap
sirkulasi darah, praktik ini masih jarang digunakan oleh masyarakat
dibandingkan dengan senam kaki yang lebih umum diberikan di fasilitas
kesehatan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk
mengetahui perbedaan pengaruh pemberian Buerger Allen exercise dan senam kaki
terhadap peningkatan sirkulasi darah perifer pada penderita diabetes mellitus
tipe 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas kedua
metode latihan tersebut dalam meningkatkan sirkulasi darah perifer dan
memberikan rekomendasi bagi praktik klinis di masa mendatang. Manfaat dari
penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih baik tentang
pendekatan latihan yang optimal bagi penderita diabetes mellitus tipe 2 dalam
meningkatkan kesehatan sirkulasi mereka.
METODE PENELITIAN
Jenis atau Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian komparatif dengan desain pretest-posttest berpasangan, yang
bertujuan untuk membandingkan efek dari dua jenis perlakuan terhadap sirkulasi
darah perifer pada pasien diabetes melitus tipe 2 (Almasith et al.,
2017; Badrujamaludin et al., 2021).
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini
adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang telah menderita penyakit tersebut
selama kurang lebih tiga tahun. Sampel yang diambil berjumlah 32 orang, yang
dibagi ke dalam dua kelompok; kelompok pertama terdiri dari 16 orang yang
diberikan perlakuan Buerger Allen Exercise, dan kelompok kedua terdiri dari 16
orang yang diberikan perlakuan senam kaki. Kedua kelompok diberikan perlakuan
tiga kali dalam seminggu selama dua bulan.
Kriteria Penelitian
Kriteria inklusi untuk subjek
penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang telah menderita penyakit
selama kurang lebih tiga tahun dan mengonsumsi obat diabetes secara teratur.
Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan kondisi medis lain yang dapat
mempengaruhi hasil penelitian.
Teknik
Pengumpulan Data:
Data
dikumpulkan melalui evaluasi pretest dan posttest yang dilakukan sebelum dan
setelah pelaksanaan latihan, menggunakan Ankle Brachial Index (ABI) untuk
menilai sirkulasi darah perifer. Penelitian ini dilaksanakan di Yayasan Batara
Hati Mulya Gowa, Sulawesi Selatan, dan telah disetujui oleh komisi etik
Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia, dengan nomor izin etik
714/UN4.6.4.4.31/PP36/2021.
Analisis
Data
Data
yang terkumpul diuji normalitasnya menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Data
dikatakan normal jika nilai p dari uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari
0.05. Untuk mengetahui efek sebelum dan sesudah pemberian Buerger Allen
Exercise dan senam kaki terhadap peningkatan sirkulasi darah perifer, digunakan
uji t berpasangan. Untuk membandingkan perbedaan antara Buerger Allen Exercise
dan senam kaki, digunakan uji independent t-test. Tingkat signifikansi
ditetapkan pada p ≤ 0.05, yang menunjukkan bahwa jika nilai p yang
diperoleh dari analisis lebih kecil atau sama dengan 0.05, hasil tersebut
dianggap signifikan secara statistik, dan hipotesis nol dapat ditolak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik responden
dijelaskan pada tabel 1 meliputi usia, jenis kelamin dan lama menderita
diabetes melitus tipe 2.
Tabel 1. Karakteristik
Responden
|
Karakteristik |
Jumlah |
Persen
(%) |
|
Usia (Tahun) |
||
|
46-50 |
7 |
21,9 |
|
51-55 |
7 |
21,9 |
|
56-60 |
5 |
15,6 |
|
61-65 66-70 |
8 5 |
25 15,6 |
|
Total |
32 |
100 |
|
Jenis Kelamin |
||
|
Laki-laki |
11 |
32,4 |
|
Perempuan |
21 |
65,6 |
|
Total |
32 |
100 |
|
Lama Menderita DM (Tahun) |
||
|
1-5 |
16 |
50 |
|
6-10 |
16 |
50 |
|
Total |
60 |
100.0 |
Responden
yang berusia 61 sampai 65 tahun merupakan yang terbanyak mengalami diabetes melitus tipe 2. Hal tersebut
disebabkan pada usia tersebut beresiko mengalami gangguan penyempitan pembuluh
darah yang karena adanya gangguan sirkulasi darah perifer pada ekstremitas
bawah. Proses penuaan dapat mempengaruhi
elastisitas pembuluh darah karena berkurangnya nitrit oksid sehingga peredaran
darah akan mengalami penurunan.
Tabel 2. Uji Normalitas Data
|
Kolmogorov-Smirnov |
Nilai ABI |
|
p |
|
|
Buerger allen exercise |
|
|
Pre test |
0,141 |
|
Post test |
0,99 |
|
Senam kaki |
|
|
Pre test |
0,143 |
|
Post test |
0,066 |
Berdasarkan
Tabel 2, semua kelompok menunjukkan distribusi normal karena p > 0,05. Uji
normalitas dilakukan menggunakan Kolmogorov-Smirnov, mengingat jumlah sampel
lebih dari 30 responden.
Tabel 3. Uji Pengaruh Sebelum
dan Sesudah Pemberian Latihan Terhadap Sirkulasi Darah Perifer Pada Kelompok Perlakuan
|
Kelompok |
Nilai
ABI |
|
|
Mean±SD |
p |
|
|
Buerger Allen Exercise |
|
|
|
Pre test |
5,93±1,06 |
0,001 |
|
Post test |
13,56±1,09 |
|
|
Senam Kaki |
|
|
|
Pre test |
6,50±1,03 |
0,001 |
|
Post test |
12,8±0,91 |
|
Berdasarkan analisis statistik pada Tabel 3,
diperoleh bahwa kedua kelompok perlakuan—yaitu kelompok yang diberikan latihan
Buerger Allen exercise dan kelompok yang diberikan latihan senam kaki selama 8
minggu—mampu meningkatkan sirkulasi darah perifer dengan nilai signifikan (p =
0.001). Ini menunjukkan bahwa kedua jenis latihan tersebut efektif dalam meningkatkan
sirkulasi darah perifer.
Tabel 4. Analisis Perbandingan
Buerger allen axercise dengan senam kaki
|
|
Nilai
ABI |
|||||
|
Kelompok |
Mean±SD |
Selisih |
p |
|||
|
|
|
|
|
|
||
|
Buerger allen exercise |
7,62±1,02 |
1,31 |
0,001 |
|||
|
Senam kaki |
6,31±0,60 |
|||||
Pada Tabel 4, terdapat perbedaan yang signifikan
antara kelompok yang menerima perlakuan Buerger Allen exercise dan kelompok
yang melakukan senam kaki, dengan nilai selisih sebesar 1,31 (p = 0,001).
Kelompok yang diberikan perlakuan Buerger Allen exercise memiliki nilai mean
tertinggi, yaitu 7,62. Secara klinis, selisih sebesar 1,31 termasuk dalam
kategori normal, yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara klinis
antara kelompok yang menerima perlakuan Buerger Allen exercise dan kelompok
yang melakukan senam kaki. Hal ini menandakan bahwa meskipun kedua latihan
efektif, terdapat perbedaan yang signifikan dalam dampaknya terhadap sirkulasi
darah perifer.
Buerger Allen exercise adalah kombinasi dari
beberapa perubahan postur, termasuk elevasi kaki pada sudut 45 derajat,
penurunan kaki, dan tidur terlentang. Selain itu, latihan ini juga memanfaatkan
efek pompa otot pada pergelangan kaki dengan melibatkan gerakan dorsofleksi dan
plantarfleksi. Latihan ini dirancang untuk meningkatkan sirkulasi darah perifer
dan dapat membantu pasien dengan masalah sirkulasi. Pada latihan buerger allen
exercise akan merangsang stimulasi otot gastrocnemius dan soleus yang
meningkatkan muscle pump yang akan memfasilitasi venous return dan Pengeluaran
nitrit oksida (NO) berperan penting dalam meningkatkan fleksibilitas pembuluh
darah. Nitrit oksida membantu melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah
ke ekstremitas bawah menjadi lebih lancar. Dengan meningkatnya aliran darah,
oksigen dan nutrisi dapat mencapai jaringan dengan lebih efektif, yang penting
untuk kesehatan dan fungsi ekstremitas bawah. Peningkatan ini dapat
berkontribusi pada perbaikan kondisi pasien yang mengalami masalah sirkulasi
darah. Pada tahap elevasi kaki pada sudut 45 derajat, gaya gravitasi berperan
dalam mengosongkan pembuluh darah vena. Proses ini mengurangi volume darah yang
terakumulasi di ekstremitas bawah, sehingga menyebabkan peningkatan aliran
darah kembali ke atrium kanan jantung. Hasilnya, ini dapat meningkatkan cardiac
output, yaitu jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit. Peningkatan
cardiac output sangat penting untuk memastikan bahwa organ dan jaringan
menerima pasokan oksigen dan nutrisi yang memadai (Chang et al., 2016)
Senam
kaki merupakan latihan yang terdiri dari beberapa gerakan yang dilakukan secara
aktif sehingga merangsang pelepasan nitrit oxid oleh pembuluh darah yang telah
mengalami vasodilatasi sehingga aliran darah menuju ekstremitas bawah menjadi
lancar dan mengalami peningkatan.
Berdasarkan penelitian perbandingan antara dua
kelompok perlakuan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
terhadap peningkatan sirkulasi darah perifer. Kelompok yang mendapatkan
perlakuan latihan buerger allen exercise memiliki peningkatan sirkulasi darah
perifer yang ditandai dengan peningkatan nilai ABI lebih baik dibandingkan
dengan kelompok perlakuan yang diberikan latihan senam kaki. Hal tersebut
disebabkan oleh perbedaan mekanisme antara perlakuan yang diberikan. Pada
Buerger Allen exercise, terdapat penerapan gaya gravitasi yang berfungsi untuk
mengosongkan pembuluh darah vena, yang tidak terjadi pada senam kaki. Penerapan
gaya gravitasi ini membantu meningkatkan aliran darah kembali ke jantung,
sehingga dapat meningkatkan cardiac output. Sebaliknya, senam kaki mungkin
lebih fokus pada gerakan tanpa efek gravitasi yang signifikan, sehingga
dampaknya terhadap sirkulasi darah mungkin berbeda (Barnes, 2011).
KESIMPULAN
Kesimpulan
ini menunjukkan bahwa Buerger Allen exercise dan senam kaki terbukti efektif
dalam meningkatkan sirkulasi darah perifer pada penderita diabetes melitus tipe
2, yang terlihat dari peningkatan Ankle Brachial Index (ABI), indikator penting
untuk menilai aliran darah ke ekstremitas; peningkatan ABI menandakan perbaikan
sirkulasi darah yang esensial bagi kesehatan penderita diabetes, mengingat
risiko komplikasi vaskular yang tinggi. Namun, Buerger Allen exercise
menunjukkan efektivitas yang lebih besar dibandingkan senam kaki, kemungkinan
disebabkan oleh mekanisme unik dalam Buerger Allen exercise, seperti penerapan
gaya gravitasi dan penggunaan pompa otot yang secara langsung meningkatkan
aliran darah kembali ke jantung, sehingga menjadikannya pilihan yang lebih baik
untuk meningkatkan sirkulasi darah pada penderita diabetes melitus tipe 2.
Implikasi penelitian ini sangat penting bagi praktik klinis, diharapkan hasil
penelitian ini dapat diterapkan oleh tenaga medis di rumah sakit dan pelayanan
kesehatan lainnya untuk memperbaiki sirkulasi darah dan menurunkan kadar
glukosa; dengan rutin menerapkan kedua jenis latihan ini, tenaga medis dapat
memberikan intervensi yang efektif dalam meningkatkan kondisi pasien dan
mencegah komplikasi lebih lanjut, serta penerapan Buerger Allen exercise secara
khusus dapat meningkatkan kualitas hidup pasien melalui perbaikan aliran darah
dan kontrol glukosa, mendorong perlunya program rehabilitasi yang lebih
terstruktur dan berbasis pada bukti untuk pasien diabetes agar mereka dapat
menjalani kehidupan yang lebih sehat dan aktif.
Almasith, Y. K., Yunita, F. A., & Yunita, A. E. N.
(2017). The Difference of Menstural Pain Reduction between Warm Compress and
Back Massage. Journal of Health Science and Prevention, 1(2),
79–84.
Asmat, U., Abad, K., & Ismail, K. (2016). Diabetes
mellitus and oxidative stress—A concise review. Saudi Pharmaceutical Journal,
24(5), 547–553. https://doi.org/10.1016/j.jsps.2015.03.013
Astuti, A. (2017). Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kadar
Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Di Poli Penyakit Dalam RSUD Jombang
(Studi Di Poli Penyakit Dalam Rsud Jombang). STIKES Insan Cendekia Medika
Jombang.
Atlas, I. D. F. D. (2019). IDF diabetes atlas. International
Diabetes Federation.
Badrujamaludin, A., Melanie, R., & Nurdiantini, N.
(2021). Pengaruh mobilisasi dan massage terhadap pencegahan risiko luka tekan
pada pasien tirah baring. Holistik Jurnal Kesehatan, 15(4),
610–623. https://doi.org/10.33024/hjk.v15i4.5558
Bryant, R., & Nix, D. (2015). Acute and chronic
wounds: current management concepts. Elsevier Health Sciences.
Chang, C.-C., Chen, M.-Y., Shen, J.-H., Lin, Y. Bin, Hsu,
W.-W., & Lin, B.-S. (2016). A quantitative real-time assessment of Buerger
exercise on dorsal foot peripheral skin circulation in patients with diabetes
foot. Medicine, 95(46), e5334.
https://doi.org/10.1097/MD.0000000000005334
Hall, J. E., & Hall, M. E. (2020). Guyton and Hall
Textbook of Medical Physiology E-Book: Guyton and Hall Textbook of Medical
Physiology E-Book. Elsevier Health Sciences.
Nadrati, B., & Supriatna, L. D. (2021). Buerger allen
exercise dan ankle brachial indeks (ABI) pada penyandang diabetes melitus.
Penerbit NEM.
Nur, C., Hasrul, H., & Tahir, M. (2021). Efektifitas Senam
Terhadap Sensitivitas Kaki Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Wilayah Kerja
Puskesmas Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang. Jurnal Inovasi Dan
Pengabdian Masyarakat (JIPengMas), 1(1), 1–7.
https://doi.org/10.58901/jipengmas.v1i1.233
Trianto, A., & Hastuti, R. T. (2017). Pengaruh Senam Kaki
Terhadap Nilai Ankle Brachial Index (Abi) Pada Pasien DM Tipe II Di Persadia
Unit Dr. Moewardi Tahun 2015. (JKG) Jurnal Keperawatan Global, 2(2),
79–85. https://doi.org/10.37341/jkg.v2i2.36
Utami, P. R., & Amala, S. N. (2021). Evaluasi Oral
Antidiabetik Pada PAsien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD" X"
Lamongan. Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS),
2(1), 1–7. https://doi.org/10.30587/herclips.v2i1.2188
Villena, J. E. (2015). Diabetes mellitus in Peru. Annals
of Global Health, 81(6), 765–775.
https://doi.org/10.1016/j.aogh.2015.12.018
Wahyuni, A. (2016). Senam Kaki Diabetik Efektif Meningkatkan
Ankle Brachial Index Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Ipteks Terapan,
9(2), 19–27.
Zainuddin, M., & Utomo, W. (2015). Hubungan stres
dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus tipe 2. Riau University.
|
|
© 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication
under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |