Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, Januari 2025, 5 (1), 243-251
p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534
Available online at http://cerdika.publikasiindonesia.id/index.php/cerdika/index
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja 243
PELATIHAN PEMBUATAN BATA RINGAN UNTUNG
PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI
KELURAHAN TALION, TANA TORAJA
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4,
Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel Enrigue6
Universitas Kristen Indonesia Paulus,Indonesia
lisa@ukipaulus.ac.id
Abstrak
Ketersediaan sumber daya alam lokal, seperti pasir Sungai Maulu di Kelurahan Talion,
Kabupaten Tana Toraja, memberikan potensi besar untuk mendukung pembangunan
ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Namun, kurangnya keterampilan dalam
pengelolaan sumber daya tersebut menjadi tantangan utama. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memproduksi bata ringan berbasis sumber
daya lokal melalui pelatihan berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dengan pendekatan partisipatoris, melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap
tahapan, mulai dari sosialisasi hingga evaluasi hasil pelatihan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pelatihan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
peserta dalam memanfaatkan bahan lokal, seperti pasir Sungai Maulu dan limbah sekam
padi, untuk memproduksi bata ringan yang memenuhi standar SNI 8640:2018. Selain itu,
pelatihan ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan
usaha kecil berbasis produksi bata ringan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa
model pelatihan berbasis komunitas dapat menjadi solusi efektif untuk mendukung
pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di daerah lain dengan
potensi sumber daya serupa.
Kata kunci: bata ringan, tambang pasir, keterampilan, kualitas, keberlanjutan
Abstract
The availability of local natural resources, such as Maulu River sand in Talion Village,
Tana Toraja Regency, provides great potential to support the economic and social
development of the local community. However, the lack of skills in managing these
resources is a major challenge. This study aims to improve the community's ability to
produce lightweight bricks based on local resources through community-based training.
The method used is descriptive qualitative with a participatory approach, actively involving
the community in every stage, from socialization to evaluation of training results. The
results of the study showed that this training succeeded in increasing the knowledge and
skills of participants in utilizing local materials, such as Maulu River sand and rice husk
waste, to produce lightweight bricks that meet SNI 8640:2018 standards. In addition, this
training opens up new economic opportunities for the community through the development
of small businesses based on lightweight brick production. The implications of this study
indicate that the community-based training model can be an effective solution to support
sustainable local economic development and can be replicated in other areas with similar
resource potential.
Keywords: light brick, sand mine, skill, quality, sustainability
*Correspondence Author:
Email:
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
244
PENDAHULUAN
Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan iklim, pertumbuhan populasi,
dan urbanisasi pesat telah memberikan tekanan besar pada sektor konstruksi untuk
menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan. Bahan bangunan konvensional,
seperti bata merah, memiliki dampak lingkungan yang signifikan akibat emisi
karbon selama proses produksinya (Badan Standardisasi Nasional, 2018). Oleh
karena itu, pengembangan material alternatif seperti bata ringan telah menjadi fokus
perhatian global karena sifatnya yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis (Putra
et al., 2023). Selain itu, penggunaan limbah industri sebagai bahan baku bata ringan
juga memberikan solusi terhadap masalah pengelolaan limbah (Parung & Sandy,
2021).
Di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tana Toraja, kebutuhan akan
pembangunan infrastruktur perumahan yang ramah lingkungan dan hemat energi
semakin meningkat. Di daerah seperti Kelurahan Talion, yang sebagian besar
penduduknya bergantung pada sektor informal, pelatihan pembuatan bata ringan
memiliki potensi untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus
menyediakan solusi pembangunan lokal yang berkelanjutan (Tanjung & Munte,
2020). Penggunaan sumber daya lokal, seperti pasir sungai dan limbah organik,
telah terbukti efektif dalam menurunkan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi
material (Dhimas et al., 2024).
Pelatihan pembuatan bata ringan bagi masyarakat di sektor Sungai Maulu
menjadi sangat penting untuk mengatasi tantangan keterbatasan akses terhadap
bahan bangunan berkualitas tinggi. Selain itu, kegiatan ini berpotensi membuka
peluang ekonomi baru melalui produksi bata ringan skala kecil (Tata et al., 2023).
Dalam konteks global, pendekatan ini juga mendukung Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB), khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan dan
pembangunan berkelanjutan (Widodo et al., 2024).
Penelitian tentang material bata ringan telah berkembang pesat dalam
beberapa tahun terakhir. Penggunaan fly ash sebagai substitusi semen memberikan
hasil yang signifikan dalam hal kekuatan dan efisiensi biaya (Apriadi et al., 2015).
Selain itu, limbah organik seperti serat sisal dan limbah plastik PET juga telah
digunakan untuk meningkatkan sifat mekanik bata ringan (Widyawati, 2020). Di
sisi lain, inovasi teknologi, seperti penggunaan foam agent, memungkinkan
pembuatan bata ringan dengan porositas tinggi tanpa mengorbankan kekuatan tekan
(Siagian, 2016).
Di Indonesia, penelitian juga menyoroti pentingnya memanfaatkan sumber
daya lokal. Misalnya, pasir vulkanik dari Gunung Kelud telah digunakan sebagai
bahan baku bata ringan, memberikan hasil yang memuaskan dalam hal kualitas dan
efisiensi (Suryani, 2015). Studi lainnya menunjukkan bahwa kombinasi limbah
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
245
plastik dengan serat sisal dapat menghasilkan bata ringan yang tidak hanya kuat
tetapi juga ramah lingkungan (Tsabit, 2019).
Penelitian ini menawarkan pembaharuan dengan fokus pada pelatihan
berbasis komunitas di Kelurahan Talion, Kabupaten Tana Toraja. Tidak hanya
menggunakan bahan lokal seperti pasir sungai dan abu sekam padi, tetapi juga
mengintegrasikan teknologi produksi modern seperti foam agent dan metode
pemadatan otomatis (Pintowantoro et al., 2021). Pelatihan ini dirancang untuk
memberikan pengetahuan praktis dan teoritis kepada masyarakat, sehingga mereka
dapat memproduksi bata ringan secara mandiri dan berkelanjutan (Rahman &
Manyu, 2022). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan pelatihan
yang terstruktur mengenai pembuatan bata ringan kepada masyarakat di sektor
Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten Tana Toraja.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tujuan
untuk menggambarkan dan menganalisis pelaksanaan pelatihan pembuatan bata
ringan di masyarakat Kelurahan Talion. Metode ini dipilih karena relevan untuk
mengeksplorasi keterampilan masyarakat serta dampak pelatihan terhadap ekonomi
lokal. Pendekatan yang digunakan adalah partisipatoris (Participatory Action
Research), di mana peneliti dan masyarakat setempat berkolaborasi dalam setiap
tahap pelatihan, mulai dari identifikasi kebutuhan hingga evaluasi hasil. Pendekatan
ini memungkinkan masyarakat aktif terlibat dalam pengambilan keputusan dan
implementasi.
Kegiatan yang diawali sosialisasi yang pertama adalah bersifat non formal
dengan perwakilan anggota kelompok tani dan usaha. Adapun hasil analisis
lapangan memiliki kekuatan pada sumber daya alam yaitu tambang pasir yang
terdapat di Kelurahan Talion tepatnya di Sungai Maulu dan adanya kelompok usaha
yang mau berkembang. Dari analisis lebih lanjut dapat dilihat pada skema SWOT
berikut:
Gambar 1. Hasil analisis SWOT
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
246
Adapun metode atau langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan
pengabdian pada kelompok tani dan usaha di Kelurahan Talion (Tanjung & Munte,
2020) yaitu :
1) Sosialisasi, hal ini dilakukan untuk memeriksa lingkungan kultural masyarakat
setempat, khususnya dalam memanfaatkan material alam yang dihasilkan oleh
Kelurahan Talion. Dalam kegiatan ini dilakukan interaksi dan pembelajaran
mengenai bata ringan, meliputi material dasar penyusun, proses pembuatan bata
ringan serta kegunaannya dan tahapan dasar produksi skala rumahan. Kegiatan
sosialisasi yang dilakukan agar terdapat pemahaman dan persamaan persepsi
tentang tujuan kegiatan pelatihan ini. Sosialisasi yang pertama adalah bersifat
non formal dengan ketua dan anggota kelompok tani dan usaha.
2) Pelatihan, dalam kegiatan ini meliputi teknik pendampingan, penanganan dan
penyuluhan lanjutan dalam proses pembuatan bata ringan. Kegiatan ini
mempelajari tahapan-tahapan produksi yaitu proses pencampuran material dan
pencetakan bata ringan serta melatih koordinasi dilapangan antara anggota.
3) Penerapan teknologi, dalam hal ini diperkenalkan material penyusun bata ringan
dan juga alat sederhana yang dipakai pada saat proses pencampuran material
yang ada.
4) Pendampingan, pendampingan dilakukan dengan cara monitoring dilakukan saat
pelatihan oleh tim pelaksana setiap kegiatan berlangsung untuk memastikan agar
pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
Langkah-langkah proses pembuatan bata ringan untuk 1 kebutuhan 1 zak
semen (Badan Standardisasi Nasional, 2018), berdasarkan hasil perhitungan:
1) Mengumpulkan material dan menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan.
2) Menyiapkan pasir yang lolos ayakan no. 4 sebanyak 43 kg. Sementara itu
master agent foam disiapkan untuk membuat foam dengan menggunakan
pengaduk foam dengan mengaduk 143 ml master foam agent dengan 2 liter air,
yang dibuat dua kali mix.
3) Menyiapkan semen yang akan digunakan sebanyak 40 kg (1 zak) dan kapur
sebanyak 1,2 kg
4) Menyiapkan air adukan sebanyak 20 liter untuk mix campuran bata ringan.
5) Memasukkan air adukan ke dalam alat mix sederhana, diikuti semen, kapur dan
pasir lalu diaduk sampai membentuk bubur campuran.
6) Foam yang sebelumnya disiapkan terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke
dalam alat mix sederhana sampai foam tidak terlihat lagi atau sampai tercampur
rata.
7) Campuran segar bata ringan kemudian didiamkan sampai mengering dan telah
set. Setelah 24 jam, bekisting bata ringan dapat dilepas dan disimpan pada
tempat perawatan. Perawatan yang dilakukan adalah perawatan sederhana
dengan memberikan karung basah ataupun diberikan air secara berkala.
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
247
Alat sederhana yang dipakai dalam mendukung pelatihan dan pengembangan
pada masyarakat banyak digunakan sebagai dasar pertumbuhan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat. (Rahman & Manyu, 2022). Adapun alat sederhana
yang akan digunakan merupakan hasil perakitan dari beberapa alat-alat yang
tersedia dipasaran. Berikut gambaran alat rakit sederhana dengan lebar 100 cm dan
tinggi 120 cm yang dipakai pada kegiatan dilapangan:
Gambar 2. Alat rakit mix sederhana
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil serta pembahasan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada
Kelurahan Talion, Kabupaten Tana Toraja dapat digambarkan melalui deskripsi
berikut:
Hasil Sosialisasi dan Pengarahan
Sosialisasi dan pengarahan dilakukan dengan tujuan interaksi dan
pembelajaran mengenai bata ringan, meliputi material dasar penyusun, proses
pembuatan bata ringan serta kegunaannya dan tahapan dasar produksi skala
rumahan. Beberapa hal yang menjadi isi diskusi adalah pihak kelurahan Talion serta
kelompok tani dan usaha menginginkan adanya praktek secara langsung pembuatan
bata ringan serta adanya alat mix sederhana yang mendukung praktek dan
pembelajaran pembuatan bata ringan.
Pihak kelurahan Talion juga menjelaskan bahwa potensi tambang pasir
Sungai Maulu yang selama ini belum maksimal termanfaatkan, dapat digunakan
sebagai bahan penyusun bata ringan. Berikutnya adalah bahan additive yang
digunakan dalam pembuatan bata ringan yaitu master foam agent, yang menjadi
kendala. Ini merupakan potensi yang baik untuk para distributor master foam agent
yang dapat membuka jalan kerja sama dengan pihak kelompok tani dan usaha
dalam rencana pengadaan bahan additive.
Selain itu kelompok tani dan usaha juga diberi pengetahuan mengenai bahan
baku lain seperti limbah yang dapat digunakan dalam pembuatan bata ringan,
seperti abu sekam padi dan serbuk gergajian yang telah melalui penelitian yang ada.
Besar harapan kelompok tani dan usaha kelurahan Talion dapat diberikan
pembekalan mengenai hal tersebut.
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
248
Gambar 3. Sosialisasi dan pengarahan kegiatan pelatihan
Praktek Pembuatan Bata Ringan
Untuk praktek pembuatan bata ringan diipersiapkan alat-alat yang
mendukung seperti alat mixer sederhana, cetakan, alat pengembang foam, dan
beberapa alat pendukung lainnya. Kemudian bahan yang dipersiapkan seperti pasir,
semen, kapur, air, zat aditif dan foam agent. Pasir Sungai Maulu terlebih dahulu
disiapkan sebagai bahan lokal dari kelurahan Talion.
Gambar 4. Persiapan bahan baku pasir dari tambang Sungai Maulu
Gambar 5. Persiapan alat dan bahan
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
249
Gambar 6. Proses pencampuran semua bahan dan pencetakan
Setelah persiapan bahan selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah
mencampur setiap bahan. Dimulai dengan mencampur air, semen, kapur, pasir dan
zat additive hingga tercampur rata. Setelah itu memasukkan pasir hingga campuran
merata, bersamaan dengan itu foam agent disiapkan dengan memasukkan master
agent dan air yang telah ditentukan komposisinya pada wadah yang sudah
disiapkan. Setelah itu diaduk menggunakan mixer pengaduk sampai membentuk
foam. Setelah foam terbentuk, dimasukkan ke dalam campuran bahan baku yang
ada pada alat mix sederhana, sampai semua campuran tercampur baik.
Setelah campuran baik, disiapkan wadah cetakan. Cetakan bata yang dipakai
berdimensi 7,5x20x60 cm3. Campuran tersebut dituangkan kedalam cetakan dan
ditunggu sampai bata ringan telah set. Setelah bata ringan set, kurang lebih 24 jam
cetakan dibuka serta mengeluarkan sampel bata ringan yang telah jadi.
KESIMPULAN
Pelatihan pembuatan bata ringan di sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion,
Kabupaten Tana Toraja, berhasil meningkatkan keterampilan dan pengetahuan
masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal, seperti pasir Sungai Maulu
dan limbah pertanian, untuk memproduksi bata ringan. Pelatihan ini tidak hanya
memberikan solusi konstruksi yang ramah lingkungan dan hemat biaya, tetapi juga
membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dengan mendukung
pengembangan usaha kecil berbasis produksi bata ringan. Selain itu, penggunaan
metode produksi yang sesuai dengan standar SNI 8640:2018 menunjukkan
kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi
karbon. Untuk memastikan keberlanjutan program, diperlukan pendampingan
lanjutan berupa pelatihan manajemen usaha dan pengenalan teknologi produksi
modern. Dengan model pelatihan berbasis komunitas ini, diharapkan manfaat
serupa dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi sumber daya lokal
yang memadai.
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
250
BIBLIOGRAFI
Apriadi, P., Habsya, C., & Sumarni, S. (2015). Pengaruh Pemanfaatan Fly Ash pada
Beton Ringan Foam untuk Dinding Partisi terhadap Kuat Tekan, Berat Jenis
dan Daya Serap Air. Indonesian Journal Of Civil Engineering Education, 1(1).
DOI:10.20961/ijcee.v2i2.22580
Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI 8640:2018 Spesifikasi bata ringan untuk
pasangan dinding. Badan Standardisasi Nasional.
Dhimas Huda Tholabi, Ali Murtopo, Dwi Sat Agus, & Dedy Firmansyah. (2024).
Pengaruh Faktor Air Semen Terhadap Bata Ringan Interlock Menggunakan
Pasir Sungai Progo. 8(1).
https://journal.untidar.ac.id/index.php/rice/article/view/442/662
Fitriadi, N. (2018). Kajian Sifat Mekanik Bata Ringan dari Limbah Potong Batu
Marmer Diperkuat Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit. Teknovasi Jurnal
Teknik dan Inovasi, 4, 27-39.
Handayani, S. (2010). Kualitas Batu Bata Merah dengan Penambahan Serbuk
Gergaji. Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan, 12(1), 41-50.
Modestus, M., Sutandar, E., & Samsurizal, E. (2017). Uji Individu Bata Ringan
dengan Foam Agent Berdasarkan Variasi Ukuran Pasir.
Mulyono, T. (2021). Bahan Bangunan dan Konstruksi. Stiletto Book
Noprian, Herman Parung, & Desi Sandy. (2021). Pemanfaatan Abu Sekam Padi
Sebagai Substitusi Semen Pada Bata Ringan. 3(4).
https://ojs.ukipaulus.ac.id/index.php/pcej/article/view/225/204. DOI:
https://doi.org/10.52722/as3chv93
Nugroho, A., Triastuti, T., Sumarno, A., & Widodo, E. (2018). Studi Tekno-
Ekonomi Bata CLC (Cellular Lightweight Concrete) sebagai Pengganti Bata
Konvensional. Rekayasa Sipil, 7(1), 55-62. DOI: 10.22441/jrs.2018.v07.i1.05
Pintowantoro, S., Rochiem, R., Susanti, D., Setiyorini, Y., Abdul, F., & Nurdiansah,
H. (2021). Pembuatan Alat Produksi Bata Ringan dari Pasir Silika di Desa
Tegalwangi Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. JPP
IPTEK (Jurnal Pengabdian Dan Penerapan IPTEK), 5(1), 110.
https://doi.org/10.31284/j.jpp-iptek.2021.v5i1.1199
Puspa Ningrum, Harnedi Maizir, & Mizan Asnawi. (2022). Penggunaan Limbah
Serbuk Kayu untuk Campuran Pembuatan Bata Ringan Hariskon. Dinamisia :
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(5), 12911296.
https://doi.org/10.31849/dinamisia.v6i5.11477
Putra, F. C., Tamrin, A. G., & Rahmawati, K. (2023). Pengaruh Penggantian
Sebagian Agregat Halus dengan Limbah Plastik Terhadap Berat Jenis, Kuat
Tekan dan Nilai Ekonomis pada Bata Ringan. Indonesian Journal Of Civil
Engineering Education, 9(2). DOI:10.20961/ijcee.v9i2.83608
Rahman, Z., & Manyu, A. (2022). Pelatihan Pembuatan Prototype Pintu Otomatis
Berbasis Arduino di SMK Mambaul Ulum Paiton.
Lisa Febriani1*, Desi Sandy2, Karel Tikupadang3, Pebrinar Riani Sangle4, Sindy Banna’ Pilo5, Yeryel
Enrigue6 /Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5 (1), 243-251
Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Pada Masyarakat Sektor Sungai Maulu, Kelurahan Talion, Kabupaten
Tana Toraja
251
Siagian, D. P. (2016). Analisa Penggunaan Foam Agent sebagai Bahan Dasar
Pembuatan Bata Ringan.
Sujatmiko, B. (2019). Teknologi Beton dan Bahan Bangunan. Media Sahabat
Cendekia.
Suryani, N. (2015). Fabrikasi Bata Ringan Tipe Cellular Lightweight Concrete
dengan Bahan Dasar Pasir Vulkanik Gunung Kelud sebagai Pengganti Fly
Ash. Inovasi Fisika Indonesia, 4(3).
Tanjung, D. A., & Munte, S. (2020). Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Kepada
Home Industri Batu Bata Konvensional Guna Mendukung Program
Pemerintah 1 Juta Rumah Bersubsidi. Journal of Education, Humaniora and
Social Sciences (JEHSS), 2(3), 578582.
https://doi.org/10.34007/jehss.v2i3.116
Tata, A., Hakim, R., & Sabaruddin, S. (2023). Pelatihan Pembuatan dan
Pamanfaatan Bata Ringan Untuk Bangunan Gedung. Jurnal Pengabdian
Khairun, 2(2). https://doi.org/10.33387/jepk.v2i2.6981
Tsabit, A. H. (2019). Kombinasi Rasio Sampah Plastik Polyethylene Terephthalate
dengan Serat Sisal terhadap Sifat Mekanik Bata Ringan Green Sustainable.
Widodo, S., Arianto, Y., & Kurniawan, N. (2024). Perencanaan Bata Ringan CLC
Bonggol Jagung Sebagai Pengganti Sebagian Semen: Perencanaan Bata
Ringan CLC Bonggol Jagung Sebagai Pengganti Sebagian Semen. Jurnal
Teknik Sipil, 9(2), 19. https://doi.org/10.56071/deteksi.v9i2.947
Widyawati, F. (2020). Pemanfaatan Serat Sisal (Agave Sisalana L.) dan Limbah
Plastik PET untuk Pembuatan Bata Ringan CLC (Cellular Lightweight
Concrete). Jurnal Tambora, 4(1), 21-25. DOI: 10.36761/jt.v4i1.566
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the
terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA)
license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).